Kegiatan

Senin, 18 Oktober 2010

Petunjuk Tehnis Agroforestry Budidaya Tanaman Lorong

PETUNJUK TEHNIS

AGROFORESTRY BUDIDAYA TANAMAN LORONG

Oleh : Adib Munawar

I. PENDAHULUAN

Pola agroforestry khususnya dengan model budidaya tanaman lorong sudah banyak diterapkan oleh petani-petani di hampir seluruh wilayah Indonesia. Pola budidayanya dilakukan secara sederhana dan tidak terlalu kaku mengikuti kaidah-kaidah teoritis. Sebagian besar petani menerapkannya pada lahan yang berbukit atau pada daerah yang miring serta ada pula pada daerah yang datar. Jenis-jenis tanaman yang ditanam bervariasi sesuai dengan tingkat kecocokan lahan yang ada di daerah tersebut.

Prinsip dasar budidaya tanaman lorong adalah memadukan tanaman kayu-kayuan dengan tanaman jangka pendek (semusim). Tanaman jangka pendek ditanam di lorong-lorong (sela) yang merupakan bidang olah yang diapit oleh tanaman kayu-kayuan. Tanaman kayu-kayuan yang dipergunakan biasanya merupakan tanaman pagar yang berfungsi sebagai pagar hidup yang membentuk larikan-larikan. Larikan pagar hidup tersebut ditujukan untuk konservasi tanah dan air, meningkatkan kandungan hara bagi tanaman, dan menyediakan pakan ternak. Selain itu pula larikan tanaman pagar dapat berfungsi untuk menahan angin sehingga tanaman pangan dapat terjaga keutuhannya.

Contoh penerapan budidaya tanaman lorong adalah di NTB/NTT yang dikembangkan oleh Care Indonesia and World Neigbour pada tahun 1980-an. Pola yang dikembangkan adalah dengan menanam tananaman pagar mengikuti garis kontur dengan jenis leguminosa dengan jarak 3-5 m, tergantung kemiringan lahannya. Tanaman leguminosa yang dikembangkan adalah lamtoro gung, gamal dan kaliandra. Sedangkan tanaman semusim yang diusahakan adalah padi gogo, jagung dan lombok. Dengan demikian petani dapat memperoleh hasil ganda, selain manfaat jangka pendek, manfaat jangka panjang juga diperoleh. Penerapan budidaya tanaman lorong juga dapat dilihat di daerah Karta, Lampung Utara dimana daerah tersebut merupakan daerah dengan curah hujan cukup tinggi. Dampak tingginya curah hujan adalah hilangnya kadar hara terutama kandungan N yang tercuci oleh hujan. Dengan menerapakan budidya tanaman lorong dengan tanaman petai sebagai tanaman kayu-kayuan dan jagung sebagai tanaman semusim, dapat mengurangi kehilangan unsur N hingga 70 %.

Berdasarkan uraian diatas, maka budidaya tanaman lorong sangat cocok diterapkan pada daerah dengan curah hujan tinggi maupun daerah yang kering seperti NTT. Kabupaten Maros yang memiliki beberapa daerah cenderung lebih kering seperti Moncongloe dan Tompobulu dapat menerapkan sistem budidaya tanaman lorong ini. Daerah-daerah yang terlihat sebagai padang alang-alang di kedua wilayah tersebut dapat diperbaiki kondisi lahannya dengan menerapkan budidaya tanaman lorong. Hal yang mendukung diterapkannya

II. TUJUAN

1. Konservasi lahan dan meningkatkan kandungan hara bagi tanaman.

2. Petani dapat memperoleh pendapatan dari usaha tanaman semusim

3. Petani memperoleh kayu bakar, makanan ternak dan hasil-hasil lainnya.

III. RUANG LINGKUP

Pola agroforestry yang baik adalah pola yang banyak memberi manfaat kepada petani yang mengusahakannya. Manfaat yang dimaksud adalah manfaat kelestarian tanah dan air, manfaat ekonomis dan manfaat bagi lingkungan hidup. Budidaya tanaman lorong adalah suatu sistem produksi wanatani dimana tanaman pangan semusim ditaanam pada lorong yang berbentuk antara tanaman pagar hidup (larikan). Dengan menerapkan budidaya tanaman lorong, petani dapat memperoleh kayu bakar, pakan ternak serta hasil-hasil lainnya dengan memanfaatkan lahan sebaik mungin dengan tetap menerapkan konservasi lahan dan meningkatkan kandungan hara.

IV. PERENCANAAN

A. Bahan dan Alat

Bahan yang diperlukan :

1. Tanaman pokok

2. Tanaman Pagar

3. Pupuk

4. Insektisida/Pestisida

5. Rumput penguat teras

6. Ternak kambing/sapi

Alat yang digunakan :

1. Alat ukur lapangan

2. Peta

3. Peralatan kerja (cangkul, sekop, sabit, dll)

B. Penentuan letak tanaman pagar dan lebar lorong

Bentuk topografi lahan menentukan pengaturan letak tanaman pagar. Penentuan garis kontur pada lahan dapat dilakukan dengan cara sederhana dengan bingkai A. Sedangkan jarak antar tanaman pagar akan menentukan lebaar lorong yang dibentuk. Penentuan lebar lorong dapat dilakukan dengan rumus :

Lebar lorong = vertikal interval / sinus kemiringan lereng

Contoh :

Vertikal interval = 0,75 m

Kemiringan lereng 9 derajat, maka lebar lorong :

= 0,75/sin 9

= 5,32 m.

Selain menggunakan perhitungan diatas, lebar lorong dapat juga ditentukan dengan menggunakan tabel hubungan antara lereng, vertikal interval dan lebar lorong seperti pada tabel berikut :

Tabel 1. Hubungan antara lereng (%) dan vertikal interval (m) dengan lebar lorong (m)

No

Vertikal interval (m)

Lebar lorong (m)

kemiringan 15 %

kemiringan 25 %

kemiringan 40 %

1

0,10 – 0,25

0,7 – 1,7

0,4 – 1,0

0,3 – 0,6

2

0,25 – 0,50

1,7 – 3,3

1,0 – 2,0

0,6 – 1,3

3

0,50 – 0,75

3,3 – 5,0

2,0 – 3,0

1,3 – 1,9

4

0,75 – 1,00

5,0 – 6,7

3,0 – 4,0

1,9 – 2,5

5

1,00 – 1,50

6,7 - 10

4,0 – 6,0

2,5 – 3,8

C. Metode dan Tehnik

Pola tanam yang diterapkan dalam budidaya tanaman lorong merupakan campuran antara berbagai tanaman semusim dengan tahunan. Pola tanam yang diterapkan terdiri dari 3 pola yaitu :

1. Tanaman lorong lebih tinggi daripada tanaman pagar

Tanaman pagar yang bisa dipilih adalah jenis Leucaena leucocephala dan Flemingia congesta. Kedua jenis tanaman tersebut tahan terhadap naungan dan cepat tumbuh setelah pemangkasan. Pertumbuhan tanaman lorong dijaga agar lebih tinggi daripada tanaman pagar.


Gambar 1. Tanaman pagar berada dibawah naungan tanaman pokok ( A = tanaman pagar, B = Tanaman pokok/tanaman lorong)

2. Tanaman pagar sebagai pelindung tanaman angin.

Jenis tanaman pagar yang ditanam mempunyai perakaran yang dalam dan jarak tanam yang lebar sehingga mampu berfungsi sebagai pelindung angin bagi tanaman lorong (Gambar 2). Pertumbuhan tanaman pagar dijaga agar tingginya sama dengan tinggi tanaman lorong.


Gambar 2. Tanaman pagar sebagai pelindung angin bagi tanaman pokok ( A = tanaman pagar, B = Tanaman pokok/tanaman lorong)

3. Tanaman pagar menaungi tanaman lorong.

Pertumbuhan tanaman pagar agar lebih tinggi daripada tanaman lorong sehingga dapat menaungi tanaman lorong yang tidak tahan terhadap sinar matahari secara langsung.


Gambar 3. Tanaman pagar sebagai pelindung angin bagi tanaman pokok ( A = tanaman pagar, B = Tanaman pokok/tanaman lorong)

V. PELAKSANAAN

A. Pengolahan Tanah

Kegiatan yang dilkukan pada saat pengolahan lahan antara lain :

1. Pembersihan lahan dari rumput atau gulma

2. Lahan dicangkul ataau dibajak untuk diperoleh kegemburn tanah.

3. Pembuatan guludan tanah.

B. Pemilihan Jenis Tanaman

1. Pemilihan tanaman pagar

Tanaman yang akan dipergunakan sebagai tanaman pagar harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

a. Dapat tumbuh cepat dan bila dipangkas mudah bertunas kembali

b. Menghasilkan bahan hijauan dalam jumlah banyak untuk memperbaiki dan melindungi tanah.

c. Berakar dalam supaya tidak bersaing dengan tanaman pokok.

d. Dapat mengikat nitrigen (N) dari udara.

e. Sesuai dengan kondisi tanah daan agroklimat setempat.

Untuk jenis tanaman pagar, umumnya dipilih dari jenis tanaman legum sesuai persyaratan diatas seperti lamtoro, gamal, turi, akasia, sengon, kaliandra, dsb.

2. Pemilihan tanaman lorong

Dalam pengembangan budidaya tanaman lorong, perlu dipertimbangkan aspek biofisik, agroekosistem, potensi hama dan penyakit, ketersediaan sarana produksi dan potensi pemasarannya. Dalam pemilihan tanaman lorong dimungkinkan untuk dilakukan pencampuran beberapa jenis tanaman dalam satu lorong pertanaman atau mengatur pergiliran jenis tanaman. Hal ini dimaksudkan agar bila terjadi fluktuasi harga pada satu jenis tanaman, maka masih terdapat tanaman lain yang dapat diharapkan keuntungannya untuk mengurangi dampak kerugian. Jenis-jenis tanaman pokok yang dapat dipilih antara lain : jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, sayuran, rempah, tanaman obat, dsb.

C. Penanaman

1. Penanaman tanaman pagar

Penanaman tanaman pagar seperti lamtoro, turi, secang dan sebagainya dapat dilakukan dengan menabur/membenamkan benih-benih tanaman tersebut pada larikan pagar yang tanahnya sudah digemburkan. Untuk penanaman stek gamal, dapat ditanam langsung pada larikan tanaman pagar dengan cara menancapkan stek tersebut ke dalam tanah.

Penanaman tanaman pagar dilakukan dengan cara benih ditabur searah dengan kontur ataau tanah ditugal dan biji ditanam secara rapat sepanjang kontur atau guludan sehingga tanaman akan tumbuh dengan jarak tanam rapat.

2. Penanaman tanaman lorong

Pada tekstur tanah yang telah gembur, penanaman tanaman lorong seperti jagung, kacang tanah, kedelai dan sebagainya dapat dilaksanakan secara langsung tanpa pengolahan tanah dengan tugal tanam. Pada kondisi sama diatas, untuk bibit tanaman seperti cabai, tomat dan sebagainya dari tempat persemaian bibit ditanam secara langsung di bidang tanam tanpa harus mencangkul terlebih dahulu seluruh bidang lahan.

D. Pemeliharaan

Pemeliharaan harus dilakukan baik terhadap tanaman lorong maupun tanaman pagar. Beberapa kegiatan yang harus dilakukan secara simultan dan periodik dalam pemeliharaan tanaman lorong antara lain penyulaman, pendangiran, pengendalian gulma, pemangkasan tajuk, pengendalian hama penyakit, dan pemupukan.

1. Pemeliharaan tanaman pagar

- Pemangkasan tanaman pagar setiap 4 – 5 bulan agar dihasilkan pertumbuhan tanaman pagar yang optimal dan dihasilkan biomasa.

- Hasil pemangkasan dikembalikan ke dalam tanah agar menjadi pupuk yang bersifat organik sehingga dapat menyuburkan tanah serta memperbaiki struktur tanah.

2. Pemeliharaan tanaman lorong

- Pemberian pupuk

- Membasmi hama penyakit

- Pembersihan gulma

- Pendangiran

E. Pemanenan

Hasil tanaman lorong untuk setiap musim panen dapat dicatat dengan tujuan untuk membandingkan hasil panenan setiap musim tanam tiba. Dengan cara demikian tingkat produksi dapat dicatat untuk diketahui tingkat keuntungannya, sehingga dapat dievaluasi tingkat keberhasilannya dari satu musim ke musim berikutnya.

VI. PENUTUP

Demikian petunjuk tehnis budidaya tanaman lorong ini dibuat dengan satu harapan agar budidaya tanaman lorong dapat diterapkan oleh para petani khususnya petani daerah lahan kering yang memiliki lahan berlereng dan berbukit tetapi menginginkan hasil pertanian yang optimal. Diharapkan penyuluh kehutanan lapangan dapat memberikan bimbingan dan supervisinya kepada para petani selaku pelaku usaha tani tanaman lorong.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar